Tanggulangi Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak dari Tingkat Terbawah

Bupati Bandung Barat Drs. H. Abubakar, M.Si. menginginkan agar kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di daerahnya terus berkurang, bahkan hilang sama sekali. Nilai luhur bangsa seperti saling asah, saling asih, dan saling asuh sesungguhnya merupakan warisan leluhur bangsa yang mendorong masyarakat untuk saling menyayangi, bukan saling mengeksploitasi.

“Semua pihak harus bekerja sama agar tindak kekerasan ini dapat ditanggulangi, mulai tingkat RT, RW, desa, camat, hingga tingkat kabupaten. Sebaiknya kita menebarkan kasih sayang untuk mengatasi problem ini,” kata Bupati saat meresmikan Fasilitas Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2T2A) Kabupaten Bandung Barat, di Gedung B Pusat Perkantoran Kabupaten Bandung Barat Jln. Padalarang-Cisarua Km2 Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat, Senin (14/3/2016).

Hadir dalam kesempatan itu Kepala Badan Pemerdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Drs. H. Asep ilyas, M.Si.; Ketua Tim Pembina PKK Provinsi Jawa Barat, Dr. Hj. Netty Prasetyani; para ibu-ibu PKK Kabupaten Bandung Barat; para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD); dan para camat se-Kabupaten Bandung Barat.

Menurut Bupati, fenomena meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak disebabkan oleh semakin meningkatnya paham materialisme yang mengukur segala sesuatu dari materi. Kecintaan terhadap hal yang bersifat duniawi menabrak semua hal, termasuk mengorbankan wanita dan anak-anak demi meraih keinginan yang diinginkan.

Kembali kepada nilai luhur bangsa, minimal dapat mengurangi tingkat kekerasan ini bahkan dapat menghilangkan sama sekali. Di samping itu, mengembangkan nilai agama juga dapat mereduksi berbagai kasus kekerasan. Sebab, nilai agama mendorong tingkat disiplin masyarakat hingga mereka berhati-hati dalam bertindak.

Bupati KBB mengakui, kekerasan terhadap perempuan masih sering terjadi dalam bentuk yang cukup bervariasi. Kekerasan terhadap perempuan ini tidak lagi memandang korban dari satu dimensi, namun banyak dimenasi, seperti usia, jenis kelamin, status sosial, dan sebagainya. Tapi, tindak kekerasan masih menempatkan perempuan sebagai objek korban.(WA/Sukma/Newsroom Kabupaten Bandung Barat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *