Pemerintahan daerah

Politisi Sampai Istri Bupati Siap Maju di Pilkada Bandung Barat 2018

Meski tahapan dan waktu pelaksanannya masih menunggu kurang lebih dua tahun lagi, namun hingar bingar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, tahun 2018 mulai terasa. Nama-nama bakal calon bupati mulai bermunculan dan adu strategi dalam menarik simpati masyarakat.

Pihak yang merasa layak untuk dipilih dan memimpin Bandung Barat muncul dari kalangan tokoh masyarakat, politisi, pengusaha sampai birokrat. Sejauh ini mereka sudah berupaya menarik simpati baik secara terang-terangan dengan memasang baligo, spanduk, maupun dengan cara blusukan bertemu langsung dengan masyarakat.

Di antara banyak bakal calon bupati Bandung Barat yang disebut-sebut, nama yang paling muncul di muka publik antara Wakil Bupati Bandung Barat Yayat T Soemitra, Ketua DPRD Bandung Barat Aa Umbara Sutisna, Istri Bupati Bandung Barat Elin Suharliah Abubakar, mantan Wakil Bupati Bandung Barat Ernawan Natasaputra, mantan PjsBupati Bandung Barat Tjatja Kuswara, dan Wakil Ketua DPRD Bandung Barat Sunarya Erawan.

Masih banyak bakal calon yang diprediksi keluar dari latar belakang berbeda dengan maksud sama, yakni menjadikan Bandung Barat lebih baik. Permasalahan di kabupaten yang memiliki semboyan wibawa mukti kerta raharja ini memang tidak sedikit. Khususnya masalah pembangunan infrastruktur maupun suprastruktur yang belum maksimal. Sekelumit permasalahan ini merupakan penyumbang raport merah Bandung Barat sebagai kabupaten berpredikat buruk.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua DPC PDIP Bandung Barat Yayat T Soemitra menilai, di internal PDIP belum membahas persiapan Pilkada Kabupaten Bandung Barat. Tahun ini, partai berlambang banteng moncong putih dalam lingkaran ini masih fokus mengahadapi Pilkada serentak tahun 2016.

“Pilkada Kabupaten Bandung Barat akan dilaksanakan Juni 2018 bersamaan dengan 14 kabupaten kota lainnya, serta satu pemilihan gubernur. Waktunya sekitar dua tahun lagi, sehingga efektifnya persiapan baru dilaksanakan awal tahun 2017,” kata Yayat T Soemitra di Ngamprah, Kamis (3/3/2016).

Wakil Bupati Bandung Barat termasuk yang diisukan siap maju pada Pilkada Bandung Barat tahun 2018 ini, menilai PDIP merupakan partai terbuka yang menampung bakal calon bupati di luar kader partai.

“Bagi warga yang berniat maju sebagai bakal calon bupati bisa mendaftarkan diri melalui anak ranting desa, PAC kecamatan, DPC kabupaten, DPD provinsi, sampai DPP,” terang Yayat.

Meski Pilkada masih dua tahun lagi, Yayat mengakui komunikasi dengan partai lain sudah berjalan. Walau hanya pembicaraan non formal, tapi sudah mulai mengarah kepembahasan yang lebih serius.

“Di tingkat pusat akan dilaksanakan musyawarah untuk menentukan calon yang akan maju pada Pilkada. Di PDIP tidak mengenal istilah voting, tapi dipilih melalui musyawarah,” ujarnya.(gmn/dzi)

Yayat T Soemitra: Ajarilah Anak Naik Kuda

yayat

Wakil Bupati Bandung Barat Drs. H. Yayat T Soemitra mengemukakan, anak sebaiknya mendapatkan pendidikan agama dengan baik. Dengan belajar agama, diharapkan anak menjadi pribadi yang masagi, sehat secara moral dan sehat secara jasmani. Bahkan agama memerintahkan orang tua mengajarkan anaknya untuk naik kuda, memanah, dan berenang.

“Agama memang luar biasa, sampai mengajarkan agar orang tua mengajari anak naik kuda. Dan Eco Pesantren Daarut Tauhid mengajarkan naik kuda dan memanah. Saya sangat mengagumi,” kata Yayat Soemitra saat membuka Bimbingan Teknik Kepemimpinan dan Kewirausahaan bagi Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kabupaten Bandung Barat di Eco Pesantren Daarut Tauhid Parongpong, Kamis (17/3/2016).

Hadir sebagai pengisi materi K.H. Abdullah Gymnastiar dan Ketua Penggerak PKK Kabupaten Bandung Barat Hj. Elin Abubakar, dan Ketua Himpaudi Kabupaten Bandung Barat Rinrin Noorfaidah. Bintek Kepemimpinan dan Kewirausahaan diikuti sekitar 1.000 orang guru PAUD se-Bandung Barat. Setelah selesai acara pembukaan, Wakil Bupati sempat belajar menaiki kuda dari Aa Gym.

Menurut Aa Gym, kuda merupakan binatang yang sangat penuh pengertian dan tahu berterima kasih. Itulah sebabnya, sebelum naik kuda,  penumpang sebaiknya mengelus dan membelai kepalanya sebagai ekspresi sayang. Setelah kuda berjalan dengan baik, penumpang juga sebaiknya menepuk punggung dengan lembut sebagai pernyataan bahwa kuda tersebut telah bekerja dengan baik.

“Jika diperlakukan dengan baik, maka kuda siap mengantar penumpangnya ke mana pun dibutuhkan. Kuda akan belok ke kiri atau ke kanan terserah penumpang yang telah bersikap baik itu,” ujar Aa Gym.

Yayat Soemitra meyakini kebenaran hadis tentang sunahnya naik kuda, memanah, dan berenang itu. Meski demikian, jika seseorang tidak memiliki kuda, apalagi zaman sekarang jumlah kuda semakin berkurang, masyarakat dapat memaknai naik kuda dengan belajar menyerit kendaraan. Sebab, zaman dahulu, kuda merupakan kendaraan, baik untuk bepergian maupun saat berperang.

“Dalam zaman seperti sekarang, mungkin kita bisa memaknai, keterampilan menyetir mobil, naik motor, atau mengemudikan kendaraan tertentu hukumnya sunah. Dengan memiliki keterampilan menyetir, memungkinkan masyarakat melakukan mobilitas sehingga hidup menjadi semakin produktif. Yang pasti, di balik ajaran agama selalu ada hikmah yang bermanfaat bagi manusia,” ujar Yayat Soemitra. (WA/Sukma/Arya/Newsroom Bandung Barat)

Tanggulangi Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak dari Tingkat Terbawah

Bupati Bandung Barat Drs. H. Abubakar, M.Si. menginginkan agar kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di daerahnya terus berkurang, bahkan hilang sama sekali. Nilai luhur bangsa seperti saling asah, saling asih, dan saling asuh sesungguhnya merupakan warisan leluhur bangsa yang mendorong masyarakat untuk saling menyayangi, bukan saling mengeksploitasi.

“Semua pihak harus bekerja sama agar tindak kekerasan ini dapat ditanggulangi, mulai tingkat RT, RW, desa, camat, hingga tingkat kabupaten. Sebaiknya kita menebarkan kasih sayang untuk mengatasi problem ini,” kata Bupati saat meresmikan Fasilitas Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2T2A) Kabupaten Bandung Barat, di Gedung B Pusat Perkantoran Kabupaten Bandung Barat Jln. Padalarang-Cisarua Km2 Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat, Senin (14/3/2016).

Hadir dalam kesempatan itu Kepala Badan Pemerdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Drs. H. Asep ilyas, M.Si.; Ketua Tim Pembina PKK Provinsi Jawa Barat, Dr. Hj. Netty Prasetyani; para ibu-ibu PKK Kabupaten Bandung Barat; para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD); dan para camat se-Kabupaten Bandung Barat.

Menurut Bupati, fenomena meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak disebabkan oleh semakin meningkatnya paham materialisme yang mengukur segala sesuatu dari materi. Kecintaan terhadap hal yang bersifat duniawi menabrak semua hal, termasuk mengorbankan wanita dan anak-anak demi meraih keinginan yang diinginkan.

Kembali kepada nilai luhur bangsa, minimal dapat mengurangi tingkat kekerasan ini bahkan dapat menghilangkan sama sekali. Di samping itu, mengembangkan nilai agama juga dapat mereduksi berbagai kasus kekerasan. Sebab, nilai agama mendorong tingkat disiplin masyarakat hingga mereka berhati-hati dalam bertindak.

Bupati KBB mengakui, kekerasan terhadap perempuan masih sering terjadi dalam bentuk yang cukup bervariasi. Kekerasan terhadap perempuan ini tidak lagi memandang korban dari satu dimensi, namun banyak dimenasi, seperti usia, jenis kelamin, status sosial, dan sebagainya. Tapi, tindak kekerasan masih menempatkan perempuan sebagai objek korban.(WA/Sukma/Newsroom Kabupaten Bandung Barat)

CAMAT LEMBANG OPTIMIS PELAKSANAAN PIN POLIO DI KECAMATAN LEMBANG BISA SUKSES

PIN POLIO

Camat Lembang dan Ibu sedang memberikan PIN Polio secara simbolis Selasa, 8/03/2016

Sebanyak 15.617 balita di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menjadi sasaran pekan imunisasi nasional (pin) yang sudah mulai dilaksanakan serentak mulai dari tanggal 8 hingga 15 maret 2016 yang tersebar di 224 Pos PIN.

Pelaksanaan pencanangan PIN tingkat Kabupaten yang dibuka oleh Bapak Bupati Bandung Barat  melibatkan Forum Komunikasi Pimpinan tingkat Kabupaten dan Kecamatan, Instansi Vertikal, SKPD dan Para Kepala Desa serta dihadiri juga oleh Ketua TP PKK Kabupaten, Kecamatan dan Desa berikut para Kadernya.

“Para Kades  kemudian secara estafet mencanangkan dan mensosialisasikan kembali di masing-masing Desa kepada kader dan diteruskan kembali kepada warganya,” ujar Camat Lembang Endang Hadiat.

Menurut Camat Lembang “pencanangan pin yang pelaksanaan programnya dikhususkan bagi balita umur 0-59 bulan, kesuksesannya bukan hanya menjadi tanggung jawab Camat dan Kades, tetapi menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk MUI, PKK, Kader Posyandu, Tokoh Masyarakat, dan semua potensi pemuda yang ada di Kecamatan Lembang”.

“Kami mengajak semua pihak yang ada di Kecamatan Lembang ini untuk menyamakan visi, persepsi demi pencapaian pin sesuai target sasaran”.

Camat Lembang optimis pelaksanaan PIN di Kecamatan Lembang bakal  sukses hingga mencapai target sasaran, tentu ini adalah berkat tekad, semangat dan upaya kebersamaan serta tanggung jawab semua pihak.

“Keberhasilan PIN di Kecamatan Lembang sudah dapat dirasakan sekarang.  Sebab, saat ini semua pihak turut membantu suksesnya pelaksanaan PIN,” ungkap Camat Lembang.

Yayat Soemitra: Tak Ada Kaitan antara Gerhana dengan Perubahan Politik

10_0

Wakil Bupati Bandung Barat Drs. H. Yayat T. Soemitra menyatakan, Gerhana Matahari Total (GMT) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dan Gerhana Matahari Parsial seperti terjadi di Pulau Jawa, termasuk di Bandung dan sekitarnya, tidak ada kaitannya dengan berbagai perubahan politik yang mungkin yang terjadi di Indonesia. Sebab, politik memiliki pakemnya sendiri, sedangkan gerhana merupakan fenomena alam dan dapat diteliti secara ilmiah.

“Kita kembalikan saja persoalan gerhana kepada agama. Karena kita tidak bisa mengetehui kehendak Allah, maka kita sebaiknya bershalat dan berdoa agar setiap peristiwa yang terjadi mendapatkan berkah dari-Nya,” kata Yayat Soemitra usai mengikuti Shalat Kusuf  di Masjid Ar-Ridwan, Jln. Raya Gadobangkong, Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (9/3/2016) pagi. Bertindak sebagai imam dan khatib, K.H. Yusuf Solihin.

Wakil Bupati Bandung Barat lebih mempercayai terhadap hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang menyatakan, “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda Allah. Tidaklah terjadi gerhana Matahari dan Bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) Matahari dan Bulan, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga tersingkap kembali.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa, gerhana Matahari atau Bulan bukanlah kila-kila akan terjadinya peristiwa ini dan itu. Juga bukan pula akibat kematian seseorang atau kelahiran seseorang. Gerhana mutlak menunjukkan Kemahabesaran Allah. Itulah sebabnya, sikap yang terbaik adalah pasrah kepada Zat Yang Maha Pencipta.

Sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad saw., yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, gerhana justru harus menjadi momentum umat manusia lebih beramal saleh. Kata Rasulullah, saat terjadi gerhana, umat Islam hendaknya melaksanakan tujuh hal. Yaitu hendaknya melakukan shalat gerhana, berdoa, istighfar, takbir, zikir, bersedekah dan memerdekakan budak. (WA/Aryawan/Newroom Kabupaten Bandung Barat)

Wabup KBB: Pesantren, Menyeimbangkan Kehidupan Duniawi dengan Ukhrawi

1-2_2

Wakil Bupati Bandung Barat Drs. H. Yayat T. Soemitra menghadiri peresmian Pondok Pesantren Al-Barkah Wal Khoirul Daarul Khodir As-Salyan di Kampung Cibeunying, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (6/3/2016). Wabup berpendapat bahwa pesantren merupakan tempat yang sangat strategis untuk mempelajari agama sebagai penyeimbang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga Indonesia menuju negara yang lurus sebagai baldatun thayibatun warabbun ghafur.

Hadir dalam kesempatan itu Kepala Biro Pelayanan Sosial Pemprov Jabar, H. Dadi Iskandar; Pimpinan Ponpes Al-Khoirat Bekasi Habib Naqib; Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirat Bekasi, Habib Vad’aq; Pimpinan Ponpes Al Barkah Wal Khoirul Daarul Khodir As Salyan, Ust. H. Ibrahim Ahmad Ruang, L.C.;  Pimpinan Ponpes Ad-Dahlaniyah Soreang, Ust. Salimul Apip; Unsur Muspika (Camat Cisarua, Danramil Cisarua, dan Kapolsek Cisarua), serta tokoh masyarakat, dan tokoh agama.

Wakil Bupati mengutip Alquran Surat At-Taubah ayat (122) yang berbunyi, “Tidak sepatutnya bagi kaum mukmin itu pergi semuanya. Mengapa tidak disisakan sebagian dari mereka untuk memperdalam agama, sehingga memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri”.

Melaksanakan ayat ini secara aktual, Yayat Soemitra mengatakan, dalam mengelola masyarakat, pemimpin hendaknya menerjunkan masyarakat ke dalam berbagai macam kehidupan. Sebagian menangani masalah ilmu pengetahuan, sebagian mengurus teknologi, sebagian mengurus pembangunan, sebagian mengurus ekonomi, dan sebagainya. Namun mereka tidak boleh melupakan untuk menerjunkan sebagian dari mereka SDM yang memperdalam agama.

“Pondok pesantren merupakan tempat yang paling cocok untuk mempelajari agama itu. Itulah sebabnya, pondok pesantren akan selalu aktual dan relevan keberadaannya dalam keadaan apa pun. Ini merupakan upaya kita menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dengan ukhrawi,” kata Yayat Soemitra. (WA/Aria/Newsroom Bandung Barat)